Selasa, 06 Februari 2018

Orang-Orang Eropa Pada Masa Lampau di Papua (Abad 15-18) Reviewed by Bernard Agapa Date 2/06/2018 Rating: 3

Orang-Orang Eropa Pada Masa Lampau di Papua (Abad 15-18)

Beberapa catatan singkat kontak orang-orang eropa di Tanah Papua pada tahun 1500-an hingga 1800-an.

THE FIRST MAP OF NEW GUINEA (Sumber: papuaweb.org)

Dalam beberapa dokumen tertulis, orang Eropa pertama yang melihat Tanah Papua yang dahulu disebut Nederland Nieuw Guinea adalah orang Portugis yang bernama D’Abreu dan Serrano pada 1511, sedangkan orang pertama yang menginjakkan kakinya di atas bumi Pulau Nieuw Guinea adalah gubernur Portugis yang bernama Jorge de Menezes. De Menezes terdampar di Versiya (Warsa), suatu tempat di Kepala Burung ketika melakukan pelayaran dari Malaka ke Maluku pada 1526.

Meskipun para penjelajah berkebangsaan Portugis tersebut telah melihat dan menginjakkan kakinya di Pulau Nieuw Guinea, mereka tidak mengetahui nama pulau itu. Orang pertama yang menyebut nama penduduk dan daerah tersebut untuk pertama kalinya dalam laporan tertulis adalah seorang pelaut Portugis yang bernama Figafetta yang mengikuti Magelhaens dalam perjalanannya mengelilingi dunia, dan berada di sekitar Maluku pada 1521. Dalam laporannya disebutkan bahwa orang-orang kafir di Pulau Gilolo (sekarang Halmahera) berkuasa seorang raja Papua (Mansoben, 1995: 70).

Rekaan gambar Yñigo Ortiz de Retez
Orang Eropa berikutnya yang mengunjungi Pulau Nieuw Guinea adalah seorang pelaut Spanyol yang bernama Yñigo Ortiz de Retez yang tiba pada 20 Juni 1545 di tepi Sungai Ambermo (Sungai Mamberamo) yang terletak di pantai Utara Pulau Nieuw Guinea. Pada saat itu ia menamakan pulau itu Nueva Guinea dan menyatakan daerah itu milik raja Spanyol. Ketika Ortiz memberi nama pulau itu, dia teringat akan Guinea tua di Afrika karena penduduk Pulau Nieuw Guinea mempunyai kesamaan ciri-ciri fisik dengan penduduk Guinea di Afrika Barat yaitu warna kulitnya yang hitam dan rambutnya yang keriting (Mansoben, 1995: 70).

Hingga abad ke-17 pemerintah Belanda melalui VOC menjalankan politik non-intervensi atas wilayah Nieuw Guinea. VOC sangat memahami bahwa politik non-intervensi dilaksanakan sedapat mungkin. VOC menduga politik non-intervensi dapat dilaksanakan melalui perantaraan Tidore. Tidak dapat dipungkiri bahwa kebijakan VOC itu sepenuhnya sesuai dengan kondisi yang ada saat itu.

Pada abad ke-18 VOC mengubah kebijakannya atas Nieuw Guinea. Perubahan kebijakan VOC itu berkaitan dengan adanya rencana dari 160 orang pedagang Inggris pada 1700 untuk mengirimkan kapal-kapalnya yang bertujuan untuk membeli rempah-rempah. VOC memandang perlu untuk memantau Nieuw Guinea apakah di daerah itu masih ditemukan pohon-pohon rempah-rempah. Meskipun pembabatan pohon-pohon rempah di berbagai tempat di Nieuw Guinea telah dilaksanakan oleh Tidore, pohonpohon rempah itu masih terus tumbuh, bahkan penanaman gelap ditemukan di Pulau Pisang dan Salawati. Oleh karena itu, pada 1705 VOC mengirim Jacob Weyland dengan membawa tiga buah kapal yaitu Geelvink, de Kraanvogel dan Nova Guinea untuk menjelajahi pantai pulau Nieuw Guinea.

Dalam penjelajahannya itu, Weyland menemukan sebuah pulau yang dinamakannya Manansawari Branderseiland kepada sebuah pulau di Teluk Doreh yang kemudian dikenal dengan Pulau Mansinam. Weyland juga menamakan Geelvinkbaai (sekarang Teluk Cenderawasih) kepada sebuah teluk besar yang dahulu bernama Teluk Swandirbu. Dari hasil pelayaran itu diketahui bahwa tidak ada jenis rempah yang baik ditemukan di Nieuw Guinea Utara. Selain itu, berdasarkan hasil pelayaran itu diketahui bahwa Sultan Tidore tampaknya memiliki pengaruh atas wilayah itu (Mededeelingen, 1920: 134-5; Kamma, 1981: 85).

Meskipun pada 1716 Tidore menyatakan ketidakmampuannya untuk menghukum perompak Papua, VOC tetap berpegang pada kekuasaan Tidore atas Nieuw Guinea. Namun VOC melakukan kerja sama dengan Tidore dalam pelayaran hongi ke Nieuw Guinea. Oleh karena itu, pada Agustus 1730 seorang Kopral Belanda yang bernama Enoch Christian Wiggers dikirim bersama pelayaran hongi untuk menyusuri pantai utara Nieuw Guinea. Kunjungan itu dimaksudkan untuk mengawasi keamanan laut pantai utara Nieuw Guinea dari gangguan perompak asal Halmahera maupun Papua yang mencari budak untuk diperjualbelikan. Namun VOC tidak berhasil menguasai tanaman rempah-rempah di wilayah itu (Mededeelingen, 1920: 135).

Ketika Pangeran Nuku melakukan pemberontakan pada 1780, VOC membatalkan kebijakan politik non-intervensi yang diberlakukannya selama satu setengah abad atas Nieuw Guinea. Orang-orang Papua terlibat dalam pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Nuku itu. Pada 1783 Pangeran Nuku bersama armadanya menyerang Tidore. Pada masa itu juga orang-orang Inggris hadir kembali di Nieuw Guinea (Mededeelingen, 1920: 135). Pada Februari 1775 orang Inggris yang bernama Forrest tiba di teluk Doreh, yang juga melihat “Ossy” (Wosi) dan “Malsingham” (Mansinam) (Galis, 1948: 107).

Pada Agustus 1793 kapal Inggris yang bernama Duke of Clarence di bawah pimpinan Kapten John Hayes berlabuh di Teluk Doreh. Hayes bersama pasukan India-Inggris membangun benteng kecil di dekat pantai Teluk Doreh yang dinamakan Fort Coronation. 

Pasukan Inggris yang menjaga benteng itu melakukan perdagangan barter dengan penduduk setempat. Namun beberapa hari kemudian hubungan mereka dengan penduduk setempat kurang menguntungkan karena adanya sikap permusuhan dari penduduk setempat. Pemicu permusuhan itu adalah sikap yang kurang sopan dari para prajurit-prajurit penghuni benteng itu. Mereka mandi bertelanjang bulat di laut tanpa menghiraukan kehadiran wanita Numfor yang ada di situ. Perilaku mereka itu dianggap sebagai suatu penghinaan terhadap masyarakat Numfor, sehingga terjadi permusuhan antara prajurit Inggris tersebut dengan penduduk setempat. Oleh karena itu, ketika orang Inggris Mac Cluer dengan kapal Duchess of Clarence tiba pada November 1794 di Teluk Doreh, ia mengangkut sebagian pasukan itu dan pada April 1795 seluruh pasukan Inggris meninggalkan benteng itu (Kamma, 1981: 86).

Pangeran Nuku mengirimkan juga seorang utusan bersama kapal-kapal yang mengangkut kembali pasukan pendudukan itu ke Bengala. Kekuatan Pangeran Nuku untuk melancarkan teror di Maluku semakin meningkat karena Inggris secara diam-diam memberikan bantuan kepada Pangeran Nuku. Pemberian bantuan itu dimaksudkan sebagai usaha untuk merebut kekuasaan atas kepulauan itu. Hal ini berarti Inggris secara tidak terbuka berperang melawan Republik Bataaf, Belanda.

Pada 1796 di Hindia diketahui bahwa perang telah terjadi antara kedua kerajaan itu. Sementara itu, pada 1800 VOC dihapuskan dan Dewan XVII digantikan oleh Dewan Koloni Asia. Kepergian orang-orang Inggris menyebabkan Nuku kehilangan sumber bantuan. Oleh karena itu, Pangeran Nuku berupaya melakukan pendekatan kepada Belanda. Akan tetapi ketika orang-orang Inggris hadir di Maluku pada 1801, Pangeran Nuku kembali memihak kepada Inggris dan meraih sukses sehingga Nuku bersama 5000 orang pengikutnya dapat melancarkan serangan di Ternate.

Pada 1802 diadakan perdamaian antara Inggris dan Belanda yang mengakui pengembalian Maluku kepada Republik Bataaf, tetapi pada 1810 Maluku jatuh ke tangan Inggris. Pada saat itu Gubernur Inggris Forbes membuat suatu perjanjian yang mengatur wilayah kekuasaan Tidore dan Ternate. Tidore menguasai daerah Manseray, Karandifur, Amberpur dan Amberpoon di Nieuw Guinea (Robide van Aa menyatakan yang dimaksud dengan daerah kekuasaan Sultan Tidore itu adalah daerah Suku-suku Mansarai atau Rumsarai, Karandifur atau Angradifur, Amberpur dan Amberpoon). Sultan Tidore memahami bahwa orang bertindak lebih bijak dalam kontrak itu untuk menyebutkan suku-suku dan bukan distrik. Pada saat itu penduduk Nieuw Guinea masih hidup berpindah-pindah dari tempat tinggal yang satu ke tempat yang lainnya. Dengan cara menyebut nama suku-suku, penduduk wilayah itu tetap patuh terhadap kekuasaan Sultan Tidore. 

Kontrak 1810 memiliki arti internasional yaitu menyangkut hak-hak yang dapat diterapkan Belanda atas wilayah itu. Dalam Traktat London 1824 Inggris mengakui monopoli dagang Belanda di Maluku dan wilayah Niuew Guinea yang termasuk wilayah Tidore, tetapi lingkup kekuasaan di Nieuw Guinea tidak diuraikan.

Semua perjalanan penjelajahan Belanda di Nieuw Guinea berlangsung dengan penuh kecurigaan. Meskipun Belanda menerapkan politik nonintervensi atas daerah itu, Belanda tidak rela bila bangsa lain bermukim di sana. Oleh karena itu, ketika desas-desus beredar bahwa pada 1826 orang-orang Inggris telah bermukim di Pulau Nieuw Guinea, Belanda segera mengirim kapal layar Dourga di bawah komando Kolff untuk melakukan penelitian atas berita itu. Walaupun berita itu terbukti tidak benar, Gubernur Mercus berupaya untuk menguasai bagian pantai barat Nieuw Guinea dan membangun pangkalan. Oleh karena itu, pada 24 Agustus 1828 Belanda mendirikan pangkalan militer di wilayah itu yang diberi nama Fort du Bus (Mededeelingen, 1920: 135-6).

Pengumuman 24 Agustus 1828 merupakan awal sejarah Fort du Bus yang menyedihkan dan berakhir dengan resolusi 6 Desember 1835 yang ditandai dengan pembongkaran pangkalan itu. Sejak pembongkaran pangkalan itu Belanda mengusulkan untuk mencari tempat yang lebih baik untuk pangkalan Belanda di wilayah itu. Perintah itu berlaku hingga 1861. Laporan komisi yang diterbitkan pada 1861 yang dikenal dengan laporan Etna menjadi alasan pemerintah Belanda untuk mencabut instruksi pencarian tempat yang lebih baik untuk pangkalan dan menolak pendirian pos pemerintahan atau militer.

Sejak 1861 hingga 1898 hubungan pemerintah Belanda dengan wilayah Nieuw Guinea dilakukan dengan pengiriman kapal perang atau kapal uap pemerintah yang mengangkut komisaris atau aparat pemerintah yang ditugaskan untuk memasang papan nama, mengangkat para kepala adat, ikut serta dalam penumpasan gerombolan perompak dan pengayau orang-orang Papua dan untuk menunjukkan pamer kekuatan terhadap penduduk wilayah itu. Berdasarkan akta pengangkatan itu, para kepala adat wajib mengibarkan bendera Belanda saat kapal-kapal asing atau aparat pemerintah mendekat atau berlabuh di wilayah para kepala adat itu (Mededeelingen, 1920: 136).

Sekitar 1850 kapal Circe, kapal pemerintah Hindia Belanda mengunjungi Teluk Doreh untuk menempatkan lambang negara (Kamma, 1981: 86), sebagai tanda bahwa wilayah tersebut merupakan milik Belanda. G. F. de Bruin Kops, salah satu yang ikut dalam pelayaran itu melaporkan bahwa para awak kapal telah disambut dengan baik, dan alam Teluk Doreh indah dan permai. Orang-orang Belanda itu tidak mengetahui pengalaman penghuni benteng Coronation kira-kira 50 tahun sebelumnya.

Laporan de Bruin Kops mengenai Teluk Doreh yang bernada memuji inilah yang menyebabkan Heldring dan Gossner memilih Doreh sebagai pangkalan bagi para perintis zending Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler di Nieuw Guinea (Kamma, 1981: 86).

Pada awal 1850-an keinginan pemerintah Belanda untuk menegakkan kekuasaannya di Niuew Guinea semakin meningkat. Keinginan pemerintah Belanda itu seiring dengan meningkatnya perhatian orangorang Eropa lainnya atas wilayah itu. Kegagalan Fort du Bus telah menyadarkan pemerintah Belanda akan pentingnya suatu penelitian ilmiah sebelum pembukaan suatu pangkalan.

Selain itu, eksplorasi menjadi sarana untuk memperkuat hak Belanda atas bagian barat Nieuw Guinea. Ketika Ottow dan Geissler melakukan karya penginjilan di Manokwari, mereka dibantu pemerintah Belanda. Pemberian bantuan itu dimaksudkan untuk memberikan dasar yang kuat bagi penegakan hak milik Belanda di Nieuw Guinea. Para utusan zending itu juga terbukti mampu menunjukkan jasa-jasa pentingnya kepada pemerintah Belanda, misalnya pada 1857 mereka membantu tiga awak kapal Jerman yang kandas di wilayah itu (Mededeelingen, 1920: 137).

Orang-orang Eropa telah beberapa kali berkunjung ke Nieuw Guinea, namun penduduk setempat kurang merasakan manfaatnya. Berbeda halnya dengan kehadiran para utusan zending Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler pada 5 Februari 1855 di Pulau Mansinam (Manokwari) yang membawa pencerahan bagi orang-orang Papua. Kontak utusan zending itu dengan penduduk setempat tidak selalu menyenangkan, tetapi mereka tetap tinggal di daerah itu untuk melaksanakan tugas penginjilan (Abineno, 1978-1979: 95).

Dalam melaksanakan karya penginjilan, para zending itu melakukan pengajaran dengan mendirikan sekolah supaya anak-anak belajar “3 m” yaitu membaca, menulis dan menghitung. Para zendeling menebus anak-anak yang diperbudak dan mendidiknya dengan harapan kelak mereka tumbuh menjadi kelompok inti jemaat Kristen yang membantu pekabaran Injil di wilayah itu (End-Weitjens, 1998: 122-3).

Para zendeling itu mengalami kesulitan dalam menjalankan karya penginjilannya. Mereka kesulitan untuk memerangi praktek-praktek adat seperti perang suku, saling membalas dendam, memiliki dan menjual budak dan praktek ilmu-ilmu gaib. Oleh karena itu, para zendeling itu memohon agar pemerintah Belanda menegakkan kekuasaannya di wilayah itu (Campo, 1992: 190).

Para zending itu meyakini bahwa penegakan hukum dan ketertiban hanya dapat dilaksanakan oleh suatu pemerintahan. Pemerintah Belanda berkeinginan untuk melakukan hubungan yang intensif dengan wilayah Nieuw Guinea.

Pada 1863 pemerintah Belanda mendirikan sebuah depot batu bara di Teluk Doreh dan pada 1864 suatu kesatuan serdadu Tidore ditempatkan di Teluk Doreh untuk memberikan perlindungan kepada para awak kapal. Namun, pasukan pendudukan itu lebih banyak menimbulkan dampak negatif daripada positif dan para utusan pemerintah Belanda merasa senang ketika para pasukan itu ditarik kembali ke Tidore (Mededeelingen, 1920: 137-8).

Permohonan kepada pemerintah Belanda untuk melakukan kunjungan setiap tahun ke Teluk Doreh berulangkali tidak mendapat respons yang baik. Perhatian pemerintah Belanda terhadap Nieuw Guinea meningkat seiring dengan penguasaan Jerman atas pantai timur laut Nieuw Guinea dan penguasaan Inggris atas pantai tenggara Nieuw Guinea pada 1884. Pembukaan pangkalan Jerman dan Inggris di Nieuw Guinea meningkatkan keinginan Belanda untuk menegakkan kekuasaannya di wilayah itu.

Berulangkali penduduk di Nieuw Guinea Belanda melakukan perompakan dan pengayauan ke wilayah koloni Inggris di wilayah itu. Oleh karena itu, pemerintah kolonial berencana untuk membuka dan menegakkan pemerintahannya di Nieuw Guinea Belanda pada 1898 (Mededeelingen, 1920: 138).


Note: Sebagian besar artikel ini dikumpulkan acak dari beberapa buku.

Senin, 05 Februari 2018

Peluncuran WebGis Papua Mata Papua Reviewed by Bernard Agapa Date 2/05/2018 Rating: 3

Peluncuran WebGis Papua Mata Papua


Senin, 5 Februari 2018, Pusaka, Papua Forest Watch dan AEER (Aksi, Ekologi dan Ekonomi Rakyat) melakukan peluncuran webGIS baru Mata Papua matapapua.org.

Inisiatif ini muncul di tengah terbatasnya informasi terkait ijin-ijin konsesi berbagai industri ekstraktif mulai dari perkebunan, tambang hingga eksplorasi migas serta meningkatnya konflik lahan dengan masyarakat asli Papua.

Suasana Peluncuran Web Gis matapapua.org (Dok.DP)
Suasana Peluncuran Web Gis matapapua.org (Dok.DP)

Mata Papua diharapkan menjadi platform tempat berbagi informasi serta meningkatkan visibiltas situasi Papua sesungguhnya terutama bagi masyarakat di luar Papua.

Di dalam webGIS Papua ini pemetaan dibagi berdasarkan kriteria sebagai berikut:
  1. peta sosial
  2. peta kawasan hutan
  3. peta konsesi
  4. peta demografi
  5. peta administratif

Franky Samperante dari Yayasan Pusaka menyatakan bahwa sesungguhnya tidak ada tanah kosong di Papua, walaupun dari luar nampak seperti hamparan hutan luas semata tanah-tanah itu sesungguhnya sudah dimiliki oleh marga dan suku-suku di wilayah tersebut sebagai areal tempat tinggal, hutan sagu, ladang perburuan dan sebagainya.

Sementara itu Charles Tawaru dari Papua Forest Watch menjelaskan bahwa saat ini sudah hampir 65% areal di kedua propinsi baik Papua maupun Papua Barat sudah berada dalam kepungan investasi terutama untuk industri ekstraktif. Dan di tengah kekayaan alam yang berlimpah ini ironisnya, kedua propinsi tersebut masih menduduki peringkat atas untuk jumlah penduduk miskin.

Dalam kesempatan ini perkumpulan AEER yang diwakili lansung oleh Pius Ginting juga membagikan hasil kajiannya terkait dampak limbah tambang (tailing) dari PT. Freeport yang menyebabkan kerusakan sungai dan lingkungan yang cukup parah di area sekitar tambang. Cemaran limbah tambang ini juga menyebabkan terganggunya sumber penghidupan masyarakat asli Papua yang hidup di sepanjang aliran sungai tersebut.

Selain itu, dalam websitenya Mata Papua disebut sebagai sarana advokasi dan perjuangan memajukan  penghormatan dan perlindungan atas hak-hak masyarakat adat Papua dan pengelolaan sumber daya alam secara adil dan berkelanjutan.

Sabtu, 03 Februari 2018

Film-Film Tentang Nelson Mandela Dari Sisi Lain Reviewed by Bernard Agapa Date 2/03/2018 Rating: 3

Film-Film Tentang Nelson Mandela Dari Sisi Lain

Kisah hidupnya adalah perjuangan panjang melawan sistem apartheid. Ia dipenjara puluhan tahun di Robben Island. Mandela, aktivis gerakan demonstrasi, meruntuhkan apartheid dan presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan.

Nelson Mandela saat jadi seorang pengacara yang juga sebagai ketua ANC. (Sumber foto: DW)

Bagi saya Madiba bukan hanya seorang Tokoh inspiratif, tetapi juga yang meruntuhkan tembok pembatas. Dia juga seorang Bapa, Suami, Pengacara, Pejuang, Pasukan Milisi hingga pemimpin dunia yang-akan paling dikenang.

10 Mei 1994, momentum besar bagi Afrika Selatan, mungkin yang terbesar dalam sejarahnya. Saat itu Nelson Mandela menjadi presiden berkulit hitam pertama di Afrika Selatan. Dengan undang-undang baru yang modern dan berakhirnya apartheid.

Sudah tentu banyak buku telah terbit untuk mengisahkan perjalanan hidupnya, selain itu ada juga yang diangkat menjadi film bergenre biograpi atau sejarah. Kisahnya telah diangkat menjadi puluhan film televisi dan layar lebar.

Namun ada lima film layar lebar yang wajib ditonton dan siapa tau bisa nonton di situs streaming online masih bisa didapatkan. 

1. "Goodbye Bafana" (2007) .

Mandela diperankan secara apik oleh Dennis Haysbert. "Goodbye Bafana" merupakan kisah nyata yang menceritakan perjalanan seorang sipir berkulit putih yang menjadi penjaga Mandela selama 27 tahun.

Dalam film arahan Bille August sang sipir yang bernama James Gregory diperankan oleh Joseph Fiennes.

2. "Endgame" (2009)

"Endgame" bercerita tentang berakhirnya rezim apartheid dalam skala yang lebih luas. Mandela yang diperankan Clarke Peters terlibat diskusi panjang dengan tokoh aparthied lainnya. Film berdurasi 109 menit disutradarai oleh Pete Travis.

3. "Invictus" (2009)

Dari sekian banyak film Mandela, "Invictus" lah yang paling banyak meriah penghargaan. Film arahan sutradara kondang Hollywood, Clint Eastwood, ini dinominasikan dalam 23 kategori perfilman internasional dan menyabet delapan diantaranya. Mandela yang diperankan oleh aktor terkenal Morgan Freeman berperan sebagai Presiden Afrika Selatan.

Dalam film berdurasi 134 menit ini, Mandela berusaha keras menyatukan perbedaan warna kulit tim rugby Afsel yang akan berlaga di Piala Dunia Rugby 1995. Usahanya berhasil dan Afsel meraih trofil Piala Dunia Rugby setelah mengalahkan tim kuat Selandia Baru di final.

Diluar kenyataan bahwa film ini mendapatkan banyak penghargaan, usaha Mandela ini membuka mata dunia bahwa olahraga tak bisa dibatasi dengan warna kulit. Foto saat Mandela mengucapkan selamat pada Kapten Timnas Afsel Francois Pienaar, yang berkulit putih, yang dalam film diperankan Matt Damon menjadi kepingan emas persatuan umat manusia tanpa memandang suku, agama, ras dan antar golongan.

4. "Winnie Mandela" (2011)

Pepatah mengatakan "Dibalik pria yang kuat selalu ada wanita hebat", itulah yang mendasari film"Winnie Mandela".

Film garapan Darrell Roodt yang bergenre drama ini menceritakan perjalanan hidup Winnie Mandela dari masa kecilnya, menikah dengan Mandela dan menjalani masa-masa berat selama Mandela ditahan selama 27 tahun. Kali ini Mandela diperankan oleh Terrence Howard.

5. "Mandela: Long Walk to Freedom" (2013)

Dibandingkan film lainnya, "Mandela: Long Walk to Freedom" menyoroti penderitaan Mandela baik secara jiwa dan raga atau fisik secara lebih vulgar.
Kekerasan yang dialami Mandela sejak kecil ketika hidup di daerah kumuh, kemudian ditangkap dan menghabiskan masa produktifnya dalam penjara hingga akhirnya menjadi Presiden Afsel disusun rapi oleh sutradara Justin Chadwick.

Sosok Idris Elba, pemeran Mandela, yang hitam legam, berotot, dan ditampilkan lusuh menggambarkan penderitaan Mandela yang sanggup bertahan dalam menghadapi kerasnya rezim apartheid.

Jadi, jika berkesempatan tontonlah salah satu filmnya.

Kamis, 18 Januari 2018

Google rilis tampilan Search Console Baru versi Beta Reviewed by Bernard Agapa Date 1/18/2018 Rating: 3

Google rilis tampilan Search Console Baru versi Beta

Google telah merilis search console dengan tampilan baru versi beta dengan dua fitur utama. 
Sehari yang lalu saya mendapat pemberitahuan dari google untuk mencoba search konsole dengan tampilan yang baru. Walaupun saya memiliki 2 (dua) blog, hanya paschall-ab.blogspot.com (versi TDL deraplangkah.com) yang bisa mengakses tampilan baru web konsol dari google ini. Jadi kesimpulannya hanya yang diundang yang bisa melihat tampilan baru ini, mungkin juga karena usia blog. Saya mengelola Paschallist Blog sejak tahun 2009 silam walaupun tidak terlalu aktif. 

Pemberitahuan dari google untuk paschall-ab.blogspot.com


Google Search Console merupakan layanan web gtatis oleh Google untuk para pengembang web atau pemilik situs. Layanan web konsol ini sebelumnya bernama Google Webmaster Tool, namun sejak Mei 2015 silam oleh Google diubah dengan nama Google Seacrh Console.

Menurut saya layanan ini sangat berguna karena kita dapat memantau perkembangan isi situs di kita di indeks penelusuran, struktur standar html dan analisa pengunjung konten maupun kata kunci teratas di situs. Tak hanya itu, kelebihan dari layanan ini cukup banyak karena seperti kita ketahui bahwa google adalah raja mesin pencari dari kompetitor lainnya.

Sebenarnya saya bukan ingin mencoba kekurangan dan kelebihan, tetapi lebih banyak terkait kegunaan dari layanan ini. Karena bagus belum tentu berguna, kurang juga belum tentu buruk, sok puitis yak. 

Oh iya,  kembali lagi ke percobaan Google Search Console versi beta yang saya sempat coba walaupun tidak banyak. Secara umum tampilan versi beta ini lebih kepada peta situs dan analisis status situs di google, status tersebut adalah dari kinerja dan cakupan indeks.

Fitur kinerja lebih kepada analisa pengunjung dari pencarian kata kunci dengan fokus klik, tayangan, rata dan urutan posisi kata kunci. Fitur kinerja ini di konsol percarian lama mungkin ini penggabungan beberapa fitur seperti tampilan penelusuran dan lalu lintas penelusuran. Jadi menurut saya fitur yang baru ini cukup interaktif karena secara jelas menampilkan capaian indeks situs kita.
Berikut ini tampilannya.


 Status kinerja situs di search console versi beta.
 Status kinerja situs di search console versi beta.


Nah, itu dia tampilannya bagaimana adakah blogger yang sempat mencobanya? Silahkan berbagi.

Berikutnya ada fitur status indeks penelusuran, setelah saya mencoba bisa dikatakan interaktif karena bisa melihat halaman yang terindeks dari valid hingga kesalahan maupun yang dikecualikan oleh Google. Nah, sobat blogger bisa mencobanya nanti jika sudah resmi diluncurkan oleh Google.

status indeks penelusuran
status indeks penelusuran

Jadi kesimpulan dari percobaan ini, sekalipun hanya dengan dua menu fitur tetapi cukup mencakup semuanya dan mungkin akan ditambah lagi karena fitur yang akan datang masih dirujuk ke tampilan yang lama.

Jumat, 12 Januari 2018

Review Film: Marshall - Pengacara Muda Kulit Hitam Handal Reviewed by Bernard Agapa Date 1/12/2018 Rating: 3

Review Film: Marshall - Pengacara Muda Kulit Hitam Handal

Sekalipun agak garing dengan romansanya, tapi pesan moralnya tidak berkurang sama sekali untuk film Marshall 2017.

Memang beberapa minggu akhir ini saya lagi rajin bersantai-ria menonton film, yang menurut saya bagus. Film yang terakhir saya nonton adalah "Marshall", yang berjuang untuk kebenaran dan dan tanpa pamrih karena dia adalah seorang pengacara publik.

Film yang disutradari oleh Reginald Hudlin ini buat saya penasaran sejak akhir tahun 2017. Reginald sendiri sudah diakui sebagai seorang penulis yang handal, bagaimana dia memakan habis 20 lebih buku dalam bentuk komik hingga menjadi produser Grammy, kontes paling bergengsi di Hollywood.

Dalam biografi Marthin Luther King disebutkan salah satu polopor perlawanan terhadap diskriminasi di Amerika pada masa itu salah satunya adalah Thurgood Marshall ini.

Film Marshall ini dibuat berdasarkan kisah nyata yang menceritakan tentang seorang pegawai Mahkamah Agung yang juga menjadi Mahkamah Agung pertama berdarah Afrika-Amerika pertama, Thurgood Marshall. Awalnya Marshall adalah, seorang pengacara publik untuk Asosiasi Nasional untuk Kemajuan Orang Kulit Berwarna (NAACP) didirikan pada tahun 1909.

Bergenre biografi thriller, sang Marhall yang diperankan oleh aktor Chadwick Boseman yang mengalir tanpa ragu. Dari penampilan hingga wibawanya Thurgood  tidak hilang di Film ini.

Marhall yang diperankan oleh aktor Chadwick Boseman (Sumber foto: Screenshot/Vimeo)

Film ini berfokus bagaiamana sang pengacara ini  berjuang untuk memenangkan kasus tuduhan diperkosa oleh seorang pembantu kulit hitam, Joseph Spell. Seorang sosialita kaya Eleanor Strubing menuduh sopir kulit hitam Joseph Spell melakukan kekerasan seksual dan percobaan pembunuhan. Dia bekerja sama dengan Sam Friedman, pengacara Yahudi setempat yang tidak pernah menangani kasus pidana. Bersama-sama, kedua pria itu berusahan menemukan bukti hingga berdebat sambil bertengkar soal pandangan rasisme.

Sesungguhnya dada saya sesak ketika menyakikan beberapa adegan, seperti oleh hakim dilarang berbicara lantaran dia seorang kulit hitam.

Dalam film ini Marshall cukup sukses dalam memecahkan sebuah kasus yang menurut saya cukup sulit ditangani.

Cerita awal film ini bermula pada saat Thurgood Marshall sebelum ia bergabung dalam Mahkamah Agung pertama berdarah Afrika-Amerika pertama hingga ia meraih kesuksesannya dalam kasus Brown V. Board of Education pada tahun 1954.

Kasus Brown V. Board of Education merupakan kasus dimana pengadilan mendeklarasikan undang-undang negara bagian yang menetapkan sekolah umum terpisah bagi siswa berkulit hitam dan siswa berkulit putih. Kasus ini merupakan salah satu kasus diawal karirnya.

saya pikir sobat yang baca ulasan ini bisa saksikan kelanjutannya di film Marshall. Soal narasi film ini patut diancungi jempot. Oh iya, karena indonesia tidak dirilis di bioskop jadi saya menyaksikan film ini situs streaming online.

Rabu, 10 Januari 2018

Film Pilihan Januari 2018 Versi Siapa? Reviewed by Bernard Agapa Date 1/10/2018 Rating: 3

Film Pilihan Januari 2018 Versi Siapa?

Film-film Indonesia tentu tak kalah dengan film dari Hollywood, tapi saya memilih menonton film garapan luar sana. Tentu, ini bukan soal nasionalisme cinta produk film lokal dan sebagainya tetapi kadang di narasinya tak masuk akal kecuali film komedi.

Akhir pekan kemarin sempat menyaksikan Insidious Last Key dengan ending yang saya sesalkan. Nah, karena punya ongkos pas-pasan saya hanya bisa menyaksikan di 21cineplex. Berikut ini beberapa film pilihan yang ingin saya saksikan, mungkin sobat bisa beri rekomendasi selain itu.

Pertama, saya memang penggemar film kartun 3 dimensi jadi pilihan pertama saya tentu saja jatuh ke pada film Ferdinand. Sekilas dari beberapa sumber yang menyajikan sinopsis, Film 3D Ferdinand ini menggelitik dari narasinya. Cerita tentang seekor banteng besar bernama Ferdinand (suaranya diisi oleh John Cena) memiliki hati yang baik dan secara tidak disengaja dijual menjadi hewan buas untuk aduan.

Ferdinand by Blue Sky Studios (Source: teaser-trailer.com)

Akhirnya Ferdinand pun bertekad untuk kembali ke keluarganya dengan menempuh berbagai perjalanan.
Ia ingin membuktikan bahwa siapapun tidak dapat menilai seekor banteng hanya dari wujudnya saja.

Daftar berikutnya jatuh ke The Greatest Showman, dari trailer film musikal yang merayakan kelahiran bisnis pertunjukan dan perasaan kagum bagi saya ketika merasakan bahwa mimpi bisa jadi kenyataan. Dari sinopsisnya narasi film ini terinspirasi dari kisah perjuangan hidup dan imajinasi P.T. Barnum. Cerita penuh dramatis ini ternyata kabarnya mengisahkan tentang seorang visioner yang membangun dari nol untuk menciptakan pertunjukan mengagumkan yang menjadi sensasi dunia. Spoiler ini hanya sebatas berbagi, untuk yang lengkap saya akan usahakan untuk bisa posting setelah menyaksikan langsung.

Oh iya, pilihan film berikutnya masih coming soon di 21cineplex, Maze Runner - The Death Cure. Film ini lanjutan dari beberapa sekuel sebelumnya yang saya nonton juga, waktu itu nonton tapi versi bajakan tapi yang pertama tahun 2014. Upaya keluar dari labirin kini terus berlanjut ke seri selanjutnya, hingga tahun 2018 ini kabarnya Thomas mesti ke Last City tempat kontrol labirin.

Berikutnya tentu saja garapan Marvel Comic, Black Panther superhero fiksi yang sudah muncul sejak beberapa film "Marvel" sebelumnya.  Dari sinopsisnya, T’Challa (Chadwick Boseman) sebagai raja baru yang masih berkutat mengenai perasaannya atas meninggalnya sang ayah, T’Chaka (John Kani). Namun sang pangeran kemudian memutuskan untuk melanjutkan perjuangan sang ayah.

Pada saat Wakanda berada dalam ancaman dua musuh yang cukup berbahaya karena dianggap dapat mengancam keselamatan negara.

Black Panther pun berusaha membuktikan diri sebagai seroang raja yang pantas atas Wakanda. 

Sang pangeran harus menggunakan kostum baru miliknya serta kekuatan yang dimilikinya, untuk membela Wakanda dan negara-negara lainya.

Jadi empat film ini yang saya masih pertimbangkan untuk menonton di bioskop lansung, jika ada donatur tiket kita bisa ramaikan TKP lansung.

Senin, 08 Januari 2018

Review Film: Insidious - The Last Key Reviewed by Bernard Agapa Date 1/08/2018 Rating: 3

Review Film: Insidious - The Last Key

Jika kamu ingin menyaksikan film horror yang mencengangkan, pertimbangkalah untuk tidak menyaksikan film "Insidous: The Lasy Key" ini. Sekalipun adegannya begitu datar, tapi narasi yang disajikan penulis skenarionya cukup menarik karena Elise, Sang Cenayang kembali ke masa lalunya. 


Insidious: The Last Key merupakan prekuel dari film-film sebelumnya. Kisahnya sendiri mengambil setting beberapa tahun sebelum peristiwa yang terjadi di dua film sebelumnya. Fokus ceritanya akan menyorot masa muda Elise Rainier (Lin Shaye) yang saat itu tinggal di New Mexico. Dari sinilah semuanya bermula, teror dari iblis dan roh jahat yang menghantui Elise.

Insidious 4 yang mengusung judul Insidious: The Last Key. Film produksi studio Universal ini disutradarai oleh Adam Robitel. Di kursi produser ada nama Jason Blum, Oren Peli, dan James Wan. Sementara untuk penulisan skenario, Insidious: The Last Keymempercayakannya kepada Leigh Whannell. Film keempat dalam waralaba Insidious dibintangi oleh beberapa artis ternama seperti Lin Shaye, Leigh Whannell, Spencer Locke, Angus Sampson, Kirk Acevedo, dan Bruce Davison. Seperti apa kisah horor yang akan disuguhkan dalam Insidious: The Last Key kali ini? Simak ulasannya berikut ini.

Film dibuka dengan kisah masa kecil Elise di New Mexico. Saat itu Elise muda (diperankan Ava Kolker dan Hana Hayes) sudah punya indera keenam. Namun, ayahnya tak percaya dengan kelebihan anaknya itu, menganggapnya berhalusinasi, hingga selalu memukul dan menghukumnya jika Elise mengaku melihat hantu.

Hingga suatu ketika, saat dihukum, Elise tanpa sengaja membuka "pintu merah", sebuah pintu yang membuat kekuatan jahat masuk ke dunia manusia, lalu meninggalkan trauma bagi Elise hingga usia senjanya. Trauma ini jadi benang merah cerita film keempat, saat Elise ditelepon seseorang yang mengaku diganggu roh jahat, di rumah masa kecil Elise. Dari sinilah petualangan horor Elise dimulai, yang nantinya membuat dia kembali lagi ke dunia "Further".

Sejak awal, penonton sudah ditarik ke bangunan cerita yang kokoh. 

Tiap peristiwa akan mengantarkan ke rasa penasaran yang satu ke penasaran yang lain. Bersamaan dengan itu, rasa ngeri karena sadar ada hantu yang hadir (baik yang tampak mau yang tidak), makin menambah keasyikan menonton film ini. Ini juga jadi tanda bahwa The Last Key tak selalu mengandalkan scare jump scene atau adegan yang bikin kaget untuk menakut-nakuti penonton.

Kerapian cerita makin menghibur saat Whannel tiba-tiba menyodorkan kejutan di pertengahan film. Bolehlah disebut, kejutan ini tak lazim terjadi dalam film horor, meski juga bukan sesuatu yang baru. Yang pasti, kejutan ini menambah rasa penasaran tentang ke mana cerita akan dibawa bergerak.

Sayangnya, keseruan di paruh pertama ini bukannya makin naik jelang akhir film, tapi lama-kelamaan malah menurun hingga film selesai. Ini diawali dengan kisah di paruh terakhir yang sangat standar dan mudah ditebak. Sebenarnya, hal tersebut tak terlalu jadi masalah. Namun, hal ini tidak langsung ditutupi atau diimbangi dengan adegan-adegan mengerikan penampakan hantu agar penonton terhibur karena ditakut-takuti hingga titik ekstrem. Boleh dibilang, tingkat kengeriannya malah masih kalah jika dibandingkan film-film sebelumnya.

Insidious: The Last Key
Screenshot trailer film The Last Key di IMDb (IST)


The Last Key pun lalu berakhir antiklimaks. Saking antiklimaksnya untuk ukuran film horor, bisa-bisa penonton jadi bertanya-tanya, apakah film benar-benar sudah berakhir. Sebuah pertanyaan yang menyimpan harapan tersembunyi agar film jangan selesai dulu. 

Karena dengan awalan yang apik dan sangat membetot perhatian, The Last Key harusnya bisa ditutup dengan lebih memuaskan.

Sekarang, mari bandingkan film keempat ini dengan film-film sebelumnya. Meski seluruh film ditulis oleh orang yang sama, yaitu Leigh Whannel (juga berperan sebagai Specs), namun dilihat dari kerapian membangun misteri, film ini lebih baik dari seri kedua dan ketiga. Bisa dibilang, The Last Key menyamai keasyikan cerita di film pertama.

Sebelumnya, Insidious: Chapter 1 lebih dahulu rilis pada tahun 2010, film ini bercerita tentang mati suri yang diangkat dari kisah nyata. Putra sulung Renai dan Josh Lambert mengalami koma selama lebih dari tiga bulan. Setelahnya berbagai kejadian ganjil mulai mengusik keluarga Lambert.

Merasa khawatir dengan keadaan menantu dan cucunya, Lorraine, ibu Josh meminta bantuan paranormal. Elise, ternyata adalah paranormal yang dulu pernah membantu Lorraine menangani kasus Josh. Ternyata, sewaktu kecil Josh pernah di ganggu oleh arwah. Kejadian itu tak jauh beda dengan yang dialami Dalton putranya.

Pada Insidious: Chapter 2, masih menceritakan mengenai keluarga Lambert yang diusik oleh arwah. Jika pada akhir film Insidious: Chapter 1 Josh masuk ke alam arwah demi menyelamatkan Dalton putranya. Maka pada Insidious yang kedua ini ganti arwah Josh yang tertinggal di dunia arwah.

Awal film ini mengkisahkan tentang masa kecil Josh yang diganggu arwah dengan baju pengantin berwarna hitam. Lorreine akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan Carl seorang paranormal yang jago bermain dadu. Disitulah Carl bertemu dua pemburu hantu yang juga muncul di Insidious: Chapter 1.

Sementara pada sekuel ketiga Insidous mengambil latar waktu sebelum Insidious yang pertama. Kali ini Insidious mengangkat kisah Quinn Benner seorang gadis remaja yang hidup bersama ayah dan adik laki-lakinya di sebuah apartemen. Quinn Benner merasa dia telah berhubungan dengan ibunya yang telah meninggal.

Sayangnya, hubungan itu tidak berlangsung dengan baik. Ada beberapa kejadian ganjil yang Quinn alami. Akhirnya, Quinn mendatangi rumah Elise untuk meminta tolong. Awalnya Elise menolak untuk membantu Quinn. Pada akhirnya, Elise memutuskan membantu Quinn setelah Quinn mengalami lumpuh akibat kecelakaan yang ganjil.

Nah, pada akhir film ini ibu dari Elise kembali menyelamatkannya. Namun, adegan akhirnya inilah justru menyisakan satu pertanyaaan, yakni apakah dia juga cenayang? 

Senin, 27 November 2017

Makar Atau Merdeka? Reviewed by Bernard Agapa Date 11/27/2017 Rating: 3

Makar Atau Merdeka?

KUHP itu produk penjajah Belanda, yang katanya tidak manusiawi, tidak berhati nurani, dan tidak-tidak yang lain —ya pokoknya sudah tidak cocok lagi. Sebab itu perlu diganti. Tapi jika dilihat, kemanusiaan juga tidak terlalu termanifestasikan pada draft RKUHP terkini. Masih rancangan, memang, sangat terbuka lebar kesempatan untuk mengubah draft tersebut dalam Pembahasan di DPR RI. Tapi sejauh perkembangan pembahasannya, saya jadi bertanya-tanya, mana yang lebih tidak manusiawi? Penjajah Belanda atau kita?

Source: youngage.co/

Demontrasi Rakyat Catalunya tuntut kemerdekaan dari Spanyol (Ilustrasi/IST)
Demontrasi Rakyat Catalunya tuntut kemerdekaan dari Spanyol (Ilustrasi/IST)

Berbagai potensi permasalahan baru muncul dalam draft RKUHP. Ancaman pidana dalam berbagai rumusan tindak pidana di RKUHP lebih tinggi dibanding ancaman pidana dalam KUHP lama yang katanya produk penjajah yang tidak manusiawi. Meskipun sudah banyak penelitian dan tulisan yang membahas insignifikansi beratnya hukuman terhadap berkurangnya angka kriminalitas,1. tetap saja sejauh ini tim perumus menggunakan pendekatan hukuman dengan dalih efek jera. Bukan hanya itu, berbagai hak sipil warga negara berpotensi makin dikekang dengan berbagai rencana aturan baru dan aturan yang dipertahankan. Salah satu aturan baru yang rencananya akan dimuat adalah Bab tentang Kejahatan terhadap Ideologi Negara. Intinya, jika menyebarkan ajaran Marxisme, Leninisme, dan Komunisme, pokoknya penjara! Jadi, bersiap-siaplah mahasiswa-mahasiswa di seluruh Indonesia, karena hanya ada satu mahzab yang boleh kalian baca. Apa hayo? Pokoknya haram membayangkan penguasaan kolektif atas faktor-faktor produks?

Entah Orde Baru kembali lagi, atau memang tidak pernah pergi. Saya begitu takjub dengan ambisi negara ini untuk mengatur masing-masing isi pikiran dan kepercayaan warga negara —mana yang boleh dipikirkan mana yang tidak, mana yang boleh dipercaya mana yang tidak.

Belum lagi aturan-aturan lama dalam KUHP yang hendak dipertahankan. Salah satu pasal pidana yang sejauh ini akan dipertahankan dari KUHP lama adalah ketentuan tentang Tindak Pidana Makar. Pasal ini seringkali digunakan untuk memenjara kelompok minoritas yang menginginkan pemisahan diri dari wilayah NKRI.

Pasal Makar KUHP

Sebenarnya tindak pidana yang menyangkut “makar” ada beberapa, dari Pasal 104 sampai 110 KUHP. Makar sendiri bukan “nama tindak pidana”, namun salah satu unsur dalam berbagai tindak pidana yang dimuat dalam Pasal 104 sampai 110 KUHP. Namun agar mudah menulisnya untuk selanjutnya hanya akan saya sebut sebagai Pasal-Pasal Makar.

Salah satu ketentuan di antara Pasal-Pasal Makar tersebut adalah ketentuan mengenai makar dengan tujuan memisahkan diri dari wilayah NKRI sebagaimana diatur Pasal 106 KUHP, yang oleh R. Soesilo diterjemahkan sebagai berikut:[2]

“Makar (aanslag) yang dilakukan dengan niat hendak menaklukan daerah negara sama sekali atau sebahagiannya kebawah pemerintahan asing atau dengan maksud hendak memisahkan sebahagian dari daerah itu, dihukum penjara seumur hidup atau penjara selama-lamanya dua puluh tahun.”

Makar sendiri bukan merupakan istilah yang umum secara kolokial di Indonesia. Sehingga untuk menerjemahkan pengertian makar, perlu mengacu pada istilah awal dalam KUHP sebelum diterjemahkan, yaitu aanslag. Secara harfiah, aanslag diartikan sebagai serangan.[3] Dalam literatur mengenai hukum pidana pun, Antonio Cassese menerjemahkan aanslag sebagai the act of attacking,[8] yang dalam Bahasa Indonesia juga diterjemahkan sebagai serangan.

Namun dalam prakteknya, unsur “makar” ditafsirkan lebih luas daripada “serangan”. Dalam berbagai putusan terlihat, makar diartikan sebagai “segala usaha”, misal dalam konteks makar menurut Pasal 106 KUHP, diartikan segala usaha atau tindakan dengan niat memisahkan diri dari NKRI. Bahkan jika usaha tersebut dilakukan dengan damai, seperti penyampaian pendapat di muka umum, atau kemerdekaan berserikat dan berkumpul, yang seharusnya dilindungi oleh hak konstitusional warga negara dalam Undang-Undang Dasar NRI Tahun 1945.

Lihat saja Putusan Mahkamah Agung Nomor 1151 K/Pid/2005 tanggal 13 Januari 2006. Majelis hakim memvonis bersalah ibu-ibu tidak bersenjata yang membaptis anaknya pada perayaan Hari Ulang Tahun Republik Maluku Selatan. Tidak ada senjata tajam, ataupun senjata api. Hanya bendera. Lantaran Pasal tersebut juga, sekian manusia dijuluki “tahanan politik” atas isi pikirannya. Bahkan di era yang belasan tahun lebih muda dari Orde Baru. Di era pemerintahan yang Presidennya dari sipil ini (bukan berarti saya lebih memilih Presiden dari militer), selama 2015, terdapat 1083 masyarakat Papua yang ditangkap karena mengutarakan pendapat dan berdemonstrasi; dengan 690 laporan penganiayaan oleh aparat pada saat penangkapan atau dalam tahanan.[9]

Keberadaan Pasal ini yang bisa ditafsirkan sedemikian luas berpotensi mengekang hak sipil masyarakat. Tidak perlu jauh-jauh membicarakan hak menentukan nasib sendiri (right to self-determination of peoples) yang kata orang-orang: debatable. Cukup bicarakan saja hak yang mati-matian kita perjuangkan ketika mengusir Pak Harto dari kekuasaan: Kemerdekaan Berserikat, Berkumpul, dan Mengutarakan Pendapat.

Sejarah Penggunaan Pasal Makar di Indonesia dan Bangladesh

Sejak VOC bangkrut pada akhir abad 18, pemerintah Belanda mengambil alih kekuasaan atas Indonesia, dan mulai menerapkan hukum tertulisnya di wilayah Indonesia. Pada tahun 1915, Pemerintah Belanda mengundangkan Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch-Indie (WvS), yang nantinya setelah Indonesia merdeka, diberlakukan sebagai Kitab Undang-Undang Hukum Pidana sampai sekarang.

Dalam WvS tersebut sudah terdapat Pasal-Pasal Makar sebagaimana terdapat dalam KUHP saat ini. Pada jaman penjajahan, pasal-pasal makar ini digunakan untuk mengekang pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia. Bapak Bangsa kita, Dr. Ir. H. Soekarno pernah jadi korbannya. Pada tahun 1930, Soekarno dianggap telah melakukan Tindak Pidana Makar karena berniat menggulingkan pemerintah Belanda. Dalam pembelaannya di pengadilan, Soekarno menulis pidato bersejarah berjudul “Indonesia Menggugat”. Pidato ini merupakan pengejawantahan ide Soekarno yang menentang kolonialisme; bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa.

Pasca Perang Dunia II, Indonesia bersama dengan berbagai negara-negara di dunia mempromosikan ide bahwa “Kemerdekaan adalah Hak Segala Bangsa”, yang termanifestasikan dalam Prinsip Hak Menentukan Nasib Sendiri (Right to Self-Determination of Peoples), yang menjadi salah satu prinsip dasar didirikannya Perserikatan Bangsa-Bangsa, yaitu untuk membantu bangsa-bangsa memperoleh kemerdekaannya.

Keadaan tentu berubah. Indonesia telah memperoleh kemerdekaannya berkat perjuangan kakek-nenek kita. Pasal makar yang dahulu menjadi musuh besar, alat pengekang, pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia untuk membebaskan diri dari kekuasaan Belanda; dengan rumusan ketentuan yang sama, kini pasal itu bisa digunakan Indonesia untuk memenjara mereka-mereka yang berniat memisahkan diri dari NKRI.

Sekali lagi saya tegaskan, saya tidak bermaksud menggiring opini kemana-mana. Saya hanya menceritakan Pasal-Pasal Makar yang telah digunakan oleh berbagai rezim, dari mulai rezim kolonial, sampai tahun ke 71 Indonesia merdeka. Tentu maksud saya bukan “Dahulu Penjajahnya Belanda, Sekarang Penjajahnya Indonesia”. Tidak. Konteksnya tentu berbeda. Sebelum Indonesia Merdeka, konteksnya adalah dekolonisasi. Sekarang, saat negara-negara jajahan telah memperoleh kemerdekaan, konteksnya di luar dekolonisasi. Perbedaan konteks tersebut tentu menghasilkan aspek berbeda dalam pembahasan Prinsip Right to Self-Determination of Peoples yang sedemikian luasnya.

Tidak perlu susah-susah mengambil contoh Hukum Pidana Indonesia yang konteksnya berbeda karena dulu digunakan dalam konteks penjajahan, dan sekarang di luar konteks penjajahan. Bangladesh saja, yang memperoleh kemerdekaan bukan dalam konteks dekolonisasi, melainkan memisahkan diri dari Pakistan, sekarang pun memiliki ketentuan mengenai Tindak Pidana Makar. Ketentuan tersebut terdapat dalam Pasal 123A Bangladesh Criminal Code yang kurang lebih mengatur bahwa barangsiapa mengadakan usaha dengan tujuan untuk mempengaruhi seseorang atau sekelompok orang yang membahayakan keamanan atau kedaulatan Bangladesh, baik keseluruhan atau sebagaian teritori yang berada dalam kekuasaan Bangladesh, atau baik dengan lisan maupun tulisan mengutuk berdirinya Bangladesh, atau mendukung pembatasan atau penghapusan kedaulatan Bangladesh, diancam dengan hukuman penjara 10 (sepuluh) tahun penjara dan denda.

Selanjutnya, saya akan membahas hubungan antara Ketentuan Makar di berbagai negara dengan Hak Menentukan Nasib Sendiri (Right to Self-Determination of Peoples) yang sering dibentur-benturkan.

Hubungan dengan Prinsip Right to Self-Determination of Peoples

Dahulu, saat negara-negara dunia ketiga hendak merdeka, negara-negara di dunia dengan lantang mencanangkan prinsip hak menentukan nasib sendiri (right to self-determination of peoples) bagi bangsa-bangsa di dunia. Hak tersebut memberikan legitimasi kepada bangsa-bangsa di dunia untuk memerdekakan diri dari segala bentuk kolonialisme, alien subjugation, dominasi, dan eksploitasi.[10] Oleh praktek negara di dunia, hak memerdekakan diri dari penjajahan sebagai bagian dari hak menentukan nasib sendiri dinyatakan sebagai norma jus cogens,[11] singkatnya yaitu norma yang memaksa negara-negara di dunia dan tidak boleh disimpangi dalam keadaan apapun. Untuk konteks dekolonisasi seperti ini, penafsiran norma ini cenderung pasti, namun perdebatan muncul ketika membahas apakah bangsa-bangsa di dalam territorial negara yang sudah memerdekakan diri masih memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri?[12]

Beberapa ahli menyatakan tidak, karena setelah negara jajahan memerdekakan diri menjadi negara yang berdaulat, mereka memiliki hak atas kedaulatan wilayah yang juga dilindungi oleh hukum internasional.[13] Singkatnya, separatisme melanggar prinsip territorial integrity yang juga dilindungi oleh hukum internasional.

Ya. Perbedaan konteks memang signifikan dalam pelaksanaan hak asasi manusia. Contohnya saja hak ini. Beberapa puluh tahun lalu ketika negara jajahan dalam kekuasaan penjajah, hak ini mutlak dimiliki warga negara jajahan; sejurus kemudian terjadi Proklamasi/Deklarasi Kemerdekaan yang mungkin hanya beberapa menit, seketika segala suku bangsa yang berada dalam territorial yang diklaim dalam deklarasi tersebut kehilangan hak-nya untuk merdeka. Sekali lagi, perbedaan konteks memang selalu signifikan secara hukum. Hanya saja, kalau-kalau kita-kita para sarjana hukum mau sejenak berhenti berkutat pada definisi dan mencoba berperasaan, deklarasi kemerdekaan berbagai negara jajahan di dunia sampai sekarang banyak meninggalkan pertanyaan, dan menyisakan sisi lain dari sejarah. Menurut Rupert Emerson, kemerdekaan negara jajahan memang selalu, tidak bisa dihindari, meninggalkan pertanyaan:[14] “who rules whom, or who are the people of what country?” Pertanyaan ini mengusik dan semakin kentara lebih daripada para era kolonial, karena pemerintah kolonial bertindak untuk mengaburkan/membaur segala wilayah menjadi satu: wilayah jajahan.[15] Pembauran menjadi satu wilayah jajahan menyebabkan segala etnis yang berbeda yang “disatukan paksa” oleh pemerintah kolonial, saat merdeka, merelakan diri untuk dipimpin salah satu kelompok yang paling dominan di antara mereka; padahal mungkin saja dari kacamata sejarah, sebelum pemerintah kolonial datang, kedua etnis tersebut saling bermusuhan.[16] Latar belakang sejarah yang disisakan oleh deklarasi kemerdekaan negara jajahan ini yang menyebabkan banyak kelompok minoritas, di seluruh penjuru dunia, menginginkan untuk memisahkan diri dari negara asal. Dan sudah tentu, negara manapun di dunia akan bertindak represif terhadap sekelompok warganya yang menginginkan pemisahan diri. Menurut Rupert Emerson, ironisnya, apa yang membuat konflik seperti ini terkesan aneh dan tercela adalah karena konflik ini terjadi di dalam territorial bangsa-bangsa yang dahulu mengusung semangat anti-kolonialis, dan membangun persaudaraan sesama korban penjajahan.[17]

Sebagai jalan tengah, berbagai produk hukum internasional yang membedakan dua aspek dari Hak Menentukan Nasib Sendiri: (1) aspek eksternal; dan (2) aspek internal. Hak Menentukan Nasib Sendiri yang masih terus diemban oleh warga negara sekalipun negara tersebut telah merdeka adalah aspek internal dari hak ini. Pengertian dari aspek eksternal adalah semua kelompok (peoples) memiliki hak untuk menentukan status politik mereka secara bebas, dan kedudukan mereka dalam masyarakat internasional, berdasarkan prinsip persamaan hak dan dicontohkan dengan kemerdekaan dari kolonialisme dan pelarangan penaklukkan asing, dominasi, dan eksploitasi terhadap suatu kelompok (peoples).[18] Dengan kata lain, pengertian aspek eksternal dari hak menentukan nasib sendiri adalah hak segala kelompok (peoples) untuk mendeklarasikan kemerdekaan. Sedangkan aspek internal dari self-determination memiliki pengertian hak semua kelompok (peoples) untuk mengusahakan pembangunan ekonomi, sosial, dan budaya mereka secara bebas tanpa campur tangan asing.[19] Dengan kata lain, aspek internal dari hak menentukan nasib sendiri memberikan hak kepada seluruh warga negara dalam suatu negara, tanpa terkecuali, untuk berpartisipasi dalam pembangunan negara tersebut.

Berkaitan dengan hak minoritas untuk memerdekakan diri, muncul doktrin tentang Remedial Secession. Doktrin remedial secession lahir dari prinsip hukum ubi jus ibi remedium, yang berarti jika ada suatu hak, berarti harus ada suatu kompensasi jika hak tersebut dilanggar.[20] Menurut doktrin remedial secession, jika pemerintah suatu negara melanggar hak warga negara atas aspek internal self-determination, seperti hak untuk berpartisipasi dalam pemerintahan atau hak untuk mandiri secara ekonomi, maka sekelompok orang yang dilanggar hak-nya tersebut bisa mendapatkan kompensasi berupa external self-determination, yaitu untuk memisahkan diri dari negara tersebut.[21]

Pertanyaan saya yang belum terjawab (dan tidak perlu dihiraukan penguasa, karena toh negara-negara juga menyumbang kekaburan penafsiran ruang lingkup dari self-determination,[22] dan Mahkamah Internasional pun hanya bisa menjawab bahwa justifikasi pemisahan diri suatu kelompok sejauh ini baru bisa dilihat kasus per kasus), apakah akan selamanya, kemerdekaan selalu mengharuskan pejuangnya untuk berdarah-darah?
________

[1] Institute for Criminal Justice Reform, “Pasal-pasal Kejahatan Terhadap Ideologi Negara dalam R KUHP Harus di Bahas Dengan Hati-Hati”, ICJR, http://icjr.or.id/pasal-pasal-kejahatan-terhadap-ideologi-negara-dalam-r-kuhp-harus-di-bahas-dengan-hati-hati/ (diakses pada 1 Oktober 2016).

[5] Maggie Koerth-Baker, Crime Despite Punishment, http://undark.org/article/deterrence-punishments-dont-reduce-crime/ (diakses pada 2 Oktober 2016).

[6] R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, (Bogor: Politeia, 1995), hlm. 109.

[7] Adami Chazawi, Kejahatan terhadap Keamanan dan Keselamatan Negara, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2002), hal. 5-8.

[8] Antonio Cassese, The Oxford Companion to International Criminal Justice, (New York: Oxford University Press, 2009), hal. 937.

[9] “Laporan: Melihat Situasi di Papua tahun 2015”, http://papuaitukita.net/2016/09/melihat-situasi-di-papua-tahun-2015/ .

[10] Bingbin Lu LLB, “The Case Concerning East Timor and Self-Determination,” Murdoch University Electronic Journal of Law, Volume 11, Number 2 (June 2004), http://www.austlii.edu.au/au/journals/MurUEJL/2004/17.html#n24.

[11] Matthew Saul, “The Normative Status of Self-Determination in International Law: A Formula for Uncertainty in the Scope and Content of the Right?” Human Rights Law Review, (Oxford University Press, 2011), www.hrlr.oxfordjournals.org (diakses pada 27 September 2016), hlm. 635.

[12] Ibid., hal. 610.

[13] Andrey Sujatmoko, “Kemerdekaan Sebagai Hak Untuk Menentukan Nasib Sendiri (“Right To Self-Determination) Dalam Perspektif Hukum Internasional (Studi Kasus Terhadap Kemerdekaan Kosovo)”, Serikat Karyawan Trisakti, https://sekartrisakti.files.wordpress.com/2011/05/kemerdekaan-kosovo-11.doc.

[14] Rupert Emerson, Self Determination Revisited In The Era of Decolonization Center for International Affairs Harvard University, 1946, hal. 26.

[15] Ibid.

[16] Ibid., hal. 31.

[17] Ibid., hal. 26.

[18] UN Committee on Elimination of All Forms of Racial Discrimination (CERD), General recommendation no. 21, Right to self-determination, (art. 5© of the International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination), 23 Agustus 1996, http://tbinternet.ohchr.org (diakses pada 21 September 2016).

[19] Ibid.

[20] Ieva Verzbergaite, Remedial Secession As An Exercise of The Right to Self-Determination of Peoples, (Budapest: Central European University, 2011), hal. 39.

[21] Ibid., hal. 39.

[22] Matthew Saul, “The Normative Status of Self-Determination in International Law: A Formula for Uncertainty in the Scope and Content of the Right?” Human Rights Law Review, (Oxford University Press, 2011), www.hrlr.oxfordjournals.org (diakses pada 27 September 2016), hlm. 612.

Kamis, 30 Maret 2017

Catatan Terkait Kunjungan Pelapor Khusus Hak atas Kesehatan PBB Ke Papua Reviewed by Bernard Agapa Date 3/30/2017 Rating: 3

Catatan Terkait Kunjungan Pelapor Khusus Hak atas Kesehatan PBB Ke Papua



Pelapor Khusus Hak atas Kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Dainius Puras berkunjung ke Indonesia untuk memantau situasi terpenuhinya hak atas kesehatan. Dainius rencananya akan berkunjung di Indonesia selama 22 Maret higga 3 April 2017.

Dainius dijadwalkan mengunjungi 5 tempat di Indonesia salah satunya adalah Tanah Papua, di Jayapura dan Manokwari. Terkait kunjungan ke Papua, Dainisius akan ketemu beberapa Organisasi Sipil, Lembaga Swadaya Masyarakat serta akan mengunjungi fasilitas kesehatan yang tersedia di kota kunjungannya.

Selain memantau fasilitas kesehatan, pelapor khusus PBB ini juga untuk memantau Isu hak atas kesehatan seperti asuransi kesehatan nasional, kasus malpraktek, orang dengan masalah kejiwaan (OMDK), korban asap kebakaran hutan dan lahan tahun 2015, kelompok LGBT/SOGIE, penderita kusta, penyadang disabilitas, masyarakat adat, dan dampak rokok terhadap kesehatan. Hal diatas ini tercantum dalam Deklarasi Umum HAM Pasal 25 (1) Kovenan International Hak Ekosob mempertajam dan mendetilkan hak atas kesehatan dalam Hukum Hak Asasi Manusia Internasional, pasal 12, Konvensi Internasional Penghapusan segala bentuk diskriminasi Rasial 1965, Konvensi Internasional Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan 1979 dan dalam Konvensi Hak Anak 1989 serta beberapa instrument internasional lainnya..

Misi utama pemantauan ini adalah mendorong pembangunan hak atas kesehatan yang selaras dengan hak asasi manusia di Indonesia, serta memastikan setiap orang dapat tertanggani dengan baik dan tanpa diskriminasi.

Bagaimana dengan Hak Atas Kesehatan di Papua?


Persoalan sejarah Politik Papua yang tak kunjung usai telah melahirkan sebuah Undang-Undang pada tahun 2001, UU No.21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus. Dalam UU Otsus telah diatur terkait pelayanan kesehatan dalam BAB XVII.

Pemerintah Provinsi Papua diberi kewenangan untuk mengatur soal pelayanan hak atas kesehatan termasuk dalam penerapan UU Otus, salah satu yang telah berjalan adalah pelayanan gratis kepada Orang Asli Papua (OAP) di rumah sakit Umum di seluruh Tanah Papua dengan beberapa persyaratan administratif.

Adapun Dana yang dialokasikan dari Otonomi Khusus adalah 2 %, hal ini diatur dalam pasal 33 bagian c huruf 1. Jika kita kalkulasikan dengan dana Otsus seluruh Tanah Papua, baik provinsi Papua dan Papua Barat pada tahun 2016 adalah sekitar 2 (dua) Triliun untuk kesehatan dari seluruhnya yang hampir mencapai 8 T dengan  jumlah Rp 7.765.059.420.000.

Bicara soal angka uang di Papua memang fantastis, tetapi nilai ini terlihat tak berlaku karena tidak sejalan dengan pembangunan sumber daya manusia terlebih khusus atas tenaga medis seperti dokter, mantri maupun bidan. Jika dihitung dengan jari, di Papua sama sekali tak ada sekolah kesehatan gratis, selain subsidi di Fakultas Kedokteran Masyarakat di Uncen.

Jika alokasi 2% dari dana Otsus untuk kesehatan dan pendidikan dikhususkan untuk pembangunan dan pengembangan SDM tenaga medis bisa dibilang masih sangat kecil, karena topografi yang sangat luas dan membutuhkan banyak biaya untuk mencapai lokasi-lokasi terpencil. Jadi penggunaan dana inipun disalurkan melalui pemda dan akhirnya tidak mencapai maksud dan tujuan penggunaan dana 2% tersebut,


Pelayanan Kesehatan di Papua


Dikutip dari dari data Departemen Kesehatan 2013 di Provinsi Papua terdapat kurang lebih 33 unit Rumah Sakit (RS), 2 Rumah Sakit khusus. Dari 33 ini tak semua Rumah sakit ini mendapatkan fasilitas yang sama. Entah karena persoalan administrasi pengadaan ataupun karena kekurangan tenaga medis ataupun karena masyarakat yang jauh dari fasilitas seperti di pelosok-pelosok kampung.

Pelayanan kesehatan di Papua seharusnya diberikan dengan gratis kepada OAP tanpa melihat status atapun karena faktor lain, seperti Tahanan Politik Papua. Menurut data Pantau.or.id, hingga kini masih ada 6 tahanan politik Papua yang seharusnya bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang adil, keenam tahanan politik Papua ini tersebar di Abepura, Biak dan Nabire.

Pada tahun 2010, Filep Karma susah mendapatkan pelayanan kesehatan atas sakit yang dideritanya. saat itu Filep menjalani masa tahanannya sebagai tahanan Politik Papua, Adapun sakit yang diderita Filep Karma saat itu adalah terganggunya saluran kencing dan memerlukan operasi Colonoscopy. Karena di Papua tak tersedia fasilitas dan kemampuan untuk mengatasi sakit yang diderita bapak Filep, terpaksa harus diterbangkan ke Jakarta.

Ketika Bapak Filep karma diterbangkan ke Jakarta, Kementrian Hukum dan HAM sebagai lembaga tertinggi dari Lembaga Pemasyarakatan mengatakan tak ada dana untuk membiayai kesehatannya.

Dari kasus Bapak Filep karma ini terlihat 2 kekurangan dalam pelayanan kesehatan.

Nah.. saya kira masih banyak persoalan yang musti dijawab.. akan tetapi akan lebih penting ketika pendidikan dan kesehatan ditanggung penuh oleh negara alias gratis, baik dalam hal pembangunan SDM maupun sarana kesehatan. Karena Papua tak butuh gedung-gedung tinggi ataupun jalan tol, tetapi haknya sebagai manusia Papua. Dan karena juga indeks pembangunan masusia Papua baru dimulai 19 Tahun sejak operasi militer diberhentikan tahun 1998.

Selasa, 21 Maret 2017

Blogger Keluarkan Template Baru Yang Responsif Reviewed by Bernard Agapa Date 3/21/2017 Rating: 3

Blogger Keluarkan Template Baru Yang Responsif


Pagi ini saya tak sengaja buka dasboard blogger, ternyata muncul notifikasi bahwa silahkan mencoba tampilan baru.

Saya mencoba buka tab template dan ternyata betul, ada empat jenis template yang ditawarkan oleh Blogger. Adapun template baru yang disediakan blogger ada empat (4) diantaranya: Contempo, Soho, Emporio dan terkemuka. 

Screenshot Template Baru di Paschallist Blog



Dari empat template yang baru menjadi 12 pilihan template; 4 yang baru, 7 yang lama dan 1 klasik. Berikut susunan template yang ada:
  1. Tema Klasik
  2. Perjalanan
  3. Kelembutan
  4. Tanda Air
  5. PT Keren Sekali
  6. Jendela Gambar
  7. Tampilan Dinamis
  8. Sederhana
  9. Terkemuka
  10. Emporio
  11. Soho
  12. Contempo
Empat template terbaru yang ditawakan blogger ini cukup bagus dan responsif. Saya tak membandingan tapi ini bisa dibilang responsif seperti twitter bootstrap, karena tampilannya menyesuaikan dengan gadget.  Tentu saja tampilan template baru ini menjawab harapan sobat blogger yang berusaha mengatur tampilan dengan comot template sana-sini.

Template baru yang responsif ini menurut saya tentu akan menambah tugas para master template, dengan mencoba menyesuaikan template itu sendiri maupun dengan widget baru.

Oh iya, ada yang khas ternyata blogger menempatkan atribusinya di bagiaan footer, dan untuk bagian sidebarnya tampil jika tampilan layarnya lebar. Untuk header sekalian dengan menu yang responsif juga, jadi untuk selebihnya sobat blogger silahkan bereskperimen atas template baru ini. Karena pada akhirnya saya pun ikut mengganti tampilan ikut yang baru.

Sekedar berbagi pengetahuan, situs Blogger ini awalnya dibuat oleh Pyra Labs dan dibeli oleh Google pada tahun 2003. Setelah berada di bawah naungan Google, blogger menyediakan host dengan subdomain; blogspot.com. 

Blogger sudah beberapa kali memperbaharui tampilan. Bertepatan dengan ulang tahun blogger ke 10, pada tahun 2009 beberapa fitur diperbaharui oleh pihak Google. Perubahan tampilan baru dimulai dari tahun 2009, seperti fitur untuk menulis post, posting gambar, dan integrasi dengan Google Docs dan yang lainnya. Pada tahun 2010, Blogger juga meluncurkan template baru dan melakukan desain ulang situsnya.

Selanjutnya pada tahun 2013, Blogger mengeluarkan fitur fiturnya salah satunya fitur komentar dan integrasi pada google+ sekalian dengan tampilan mobile. Dan tahun 2017 ini, Blogger telah update 4 tampilan baru.



Salam blogger.

Senin, 20 Maret 2017

Google dan Microsoft Menawarkan Hadiah 500 Jutaan Bagi Pelapor Bug Reviewed by Bernard Agapa Date 3/20/2017 Rating: 3

Google dan Microsoft Menawarkan Hadiah 500 Jutaan Bagi Pelapor Bug

Google dan Microsof Menawarkan Hadiah 500 Juta Bagi Pelapor Bug
Google dan Microsof Menawarkan Hadiah 500 Juta Bagi Pelapor Bug (Pashallist Blog)


Google menawarkan hadiah bagi penemu sistem keamanan yang rusak dan tak berfungsi alias 'bug'. Bug tersebut harus dilaporkan sesuai produk yang ditawarkan Google. 


Namun hadiah tersebut berlaku hanya untuk orang yang diluar perusahaan Google.  Tak hanya Google, perusahaan raksasa Microsof pun demikian.

Dikutip dari laman resminya (security google blog), pada 2 Maret 2017 Google menyatakan pemburu bug meningkat pada 2017 ini. Hadiah yang ditawarkan pun tidak sedikit dan jika dirupiahkan hampir mencapai nilai yang fantatis, Rp.500 Jutaan.

Kenaikan nilai hadiah tersebut berlaku untuk masing-masing program, misalkan Remote Code Execution naik 50% dari tawaran sebelumnya.

Jadi, jika sobat berminat bisa mengajukan diri dan Google maupun Microsoft . Kedua perusahaan ini lebih berfokus pada sistem rusak atau memiliki celah pada  keamanan sistem dan database.

Oh iya, kesempatan ini hanya berlaku hingga 1 Mei 2017. Menurut pihak Google mereka ingin apresiasi dan perhatian dari publik, karena celah tingkat kemananan semakin sulit diidentifikasi.

Mereka  memberikan waktu hingga 2 bulan kepada para pemburu bug karena membutuhkan banyak waktu untuk mengidentifikasi celah-celah yang dapat ditemukan.

Ternyata penemuan bug yang diajukan untuk Microsoft Office 365 Portal dan Microsoft Exchange Online, ditawarkan akan mendapatkan hadiah dobel.

Jumlah hadiah yang ditawarkan oleh Microsoft dalam hal ini mencapai 30.000 dollar AS (sekitar Rp 400 juta), naik dari angka maksimal sebelumnya sebesar 15.000 dollar AS.

Sobat blogger, jika ingin mencoba jangan lewatkan kesempatan ini. 

Jumat, 17 Maret 2017

Perbaikan dan Menunggu Persetujuan Google Adsense Reviewed by Bernard Agapa Date 3/17/2017 Rating: 3

Perbaikan dan Menunggu Persetujuan Google Adsense

Persetujuan Google Adsense



Blog ini sudah berumur 7 tahun lebih, namun tidak terurus dengan berbagai macam alasan dan salah satunya adalah karena pengangguran banyak acara.

Hingga pada bulan lalu, seorang kawan datang berkunjung dan melihat pengunjung blog yang sehari mencapai 1000 views dan dia menyarankan kaitkan blog ini dengan Google Adsense. kawan saya ini kebetulan seorang publisher youtube dan blog yang juga mendapatkan penghasilan dari Adsense. Karena penasaran akhirnya saya mencoba mengajukan ke Google Adsense untuk monetizasi blog.

Pasca 2 hari setelah pengajuan ke adsense saya mendapakan balasan dengan cukup mengecewakan dengan jawaban:

Terima kasih atas minat Anda terhadap Google AdSense. Mohon maaf, setelah meninjau permohonan Anda, saat ini kami tidak dapat menerima Anda untuk masuk ke program AdSense.

Alasan penolakan dari Google Adsense adalah:
Konten tidak memadai: Guna mendapatkan persetujuan untuk AdSense dan menampilkan iklan yang relevan di situs Anda, laman Anda harus berisi teks yang memadai agar pakar kami dapat melakukan peninjauan dan perayap kami dapat menentukan tema laman Anda.

Jika merujuk pada konten blog saya yang berisikan hampir 100 postingan, hampir semuanya berisi opini saya bahkan ada beberapa catatan kaki kepala. Dan karena alasan penolakan diatas ini, saya mulai mencari informasi di blog maupun petunjuk dari bantuan google maupun blog adsense sendiri hingga baca beberapa artikel dari blogger terkenal tentang persiapan mendaftar adsense.

Setelah lakukan riset berdasar bahan browsing akhirnya saya menemukan bahwa isi konten blog saya hampir semua opini tanpa saran, hehehe.. tapi wajar juga saya sebagai bagian dari rakyat kecil untuk menggunakan blogger sebagai penyambung mereka yang tak bersuara.

Adapun beberapa saran yang saya dapat dari bantuan adsense dan beberapa blogger berdasar konten tidak memadai adalah sebagai berikut:


  1. Navigasi blog yang jelas; Misalkan, Beranda > Blog (Isi Halaman) > Tips > Tekno > Tentang Blog
  2. Konten blog harus ketikan sendiri dan tidak hanya judul tapi harus lebih dari 600 karakter.
  3. Tidak dalam masa perbaikan atau edit template
  4. Fokus pada kategori (fokus isu) yang dibuat dalam hal ini seperti mengenai review smartphone atau tentang wisata.
  5. Tentunya usia blog juga menentukan paling minimal 6 bulan.


Nah... 5 saran ini mengenai singkat tentang adsense pada umumnya, tapi 1 - 3 ini yang terkait konten tidak memadai dari Adsense. jadi silahkan eksprerimen sendiri. Blog ini pun sedang menunggu persetujuan adsense setelah 1 hari lalu saya ajukan dan katanya akan direview terkait persetujuan hingga 3 hari kedepan.

Jadi diatas ini sedikit ulasan saya ini hanya saran jadi silahkan bereksperimen sendiri,..
salam blogger.

Kamis, 16 Maret 2017

Mencoba Google Cloud Platform Reviewed by Bernard Agapa Date 3/16/2017 Rating: 3

Mencoba Google Cloud Platform

Google Cloud Platform


Google.Inc perusahaan raksasa asal Amerika ini memang rajanya di dunia Internet, segala hal musti dicari jika tak bisa direduksi otak. Saya bukan ahli IT tapi berikut ini sedikit ulasan apa itu Google Cloud Platform dan apa fungsinya? Dan harapannya semoga dapat gunakan sesuai kebutuhan anda.


Banyak sekali produknya yang ditawarkan, mulai dari Email Gmail, Google Seacrh, Youtube, Android, bahkan blog ini basisnya Blogger dari Google dan lain-lain. Dari semua itu Google tak hanya mengambil keuntungan tapi juga memberikan keuntungan kepada para pengguna yang serius mengeksplorasi layanan produk dan fiturnya, contohnya adalah dari Google Adsense di Blogger dan Youtube.


Screenshot dashboard Google Cloud Platform saya. (GCP/IST)

Saya tebak yang mengunjungi artikel ini sudah banyak mengenal produk terkait yang ditawarkan Google. Tapi saya ingin ulas sedikit, salah satu dari produk Google yang bernama Google Cloud Platform. Kebenaran terkait ulasan ini anda dapat mengunjunginya di website Google Cloud.

Google Cloud Platform adalah sebuah produk layanan tentang Cloud Computing dari Google yang terdiri dari 4 jenis layanan yang kesemuanya bertujuan untuk membuat sebuah project berbasis Cloud Computing atau Komputasi Berbasis Internet agar bisa dimanfaatkan dalam skala global. adapun 4 jenis layanan tersebut adalah Google AppEngine, Google BigQuery, Google Compute Engine dan Google Cloud Storage.


Kelebihan Menggunakan Layanan Google Cloud Platform


Google Cloud Platform tergolong sangat mudah dan bisa diintegrasikan dengan berbagai sistem operasi atau bahasa pemograman. Bahkan kita bisa menciptakan layanan yang bisa diakses melalui iOS Apple, sistem operasi Android, dan JavaScript Client. Untuk menggunakannya tidak perlu khawatir dengan penggunaan data yang besar.

Karena Google sudah sepaket menawarkan solusi untuk mengatasi ketakutan kehabisan volume data ini. Ada 2 alat yang bisa kita manfaatkan dan gunakan untuk mengelola data-data besar atau “Big Data” diantaranya adalah dengan menggunakan Big Query, dan yang kedua dengan menggunakan Google Cloud Dataflow. Kedua-duanya bisa membantu kita memantau, mengumpulkan, membuat, melakukan hal-hal lainnya tanpa harus mengkhawatirkan terjadi penyempitan (congestion) pada pipeline. Sehingga, selama pemprosesan data, kita akan selalu merasakan kelancaran.

Menurut saya beberapa keuntungan layanan Google Cloud Platform diataranya adalah:
  1. Keamanan Data 
  2. Fleksibel 
  3. Data Terpusat
  4. Menghemat Biaya
Jika tertarik dan ingin menggunakan untuk kebutuhan bisnis dapat mencoba sendiri. Tak salah jika menggukan Google Cloud Platform untuk bangun website anda, siapa tahu otodidak jadi web developer.
Saya sendiri menggunakan layanan Cloud dari Google ini, untuk mengelola beberapa situs yang saya bantu bangun atas pesanan orang lain. 
Dari pengalaman, fitur diatas yang saya sebutkan ini memang canggih karena sistem keamanannya menggunakan Api Key. Jadi hanya pengelola yang bisa akses, namun ada kelemahannya yakni dibeberapa permintaan dibatasi bandwidth dari besaran ukuran.

Selasa, 14 Maret 2017

Terbang Pertama DJI MAVIC Pro Reviewed by Bernard Agapa Date 3/14/2017 Rating: 3

Terbang Pertama DJI MAVIC Pro

Tahun lalu sempat kepikiran beli DJI Phantom 2 yang bekas, tapi saat itu pilihannya jatuh kepada kamera DSLR Nikon D3200.

Kotak Ajaib berisi DJI Mavic Pro






Dua bulan lalu sempat terbangkan drone milik seorang kawan, XIRO - XPLORER V tapi tidak ragu seperti saat gunakan DJI Mavic Pro.

Mavic Pro lebih kecil dan lebih lengkap fiturnya dari Xiro Xplorer yang produksi China, sekalipun dalam beberapa hal bisa disandingkan. Ya.. lumayan sih, untuk dapatkan drone ini tentu musti menabung beberapa tahun. kwkwkk. karena setara harga New-Vixion bekas, sekitar 15.000.000,-. Merasakan sensasi drone ini hanya karena kebetulan kantor beli untuk kepentingan kerja dan akhirnya saya bisa first flight drone ini.

Kehadiran DJI Mavic ini tentu bagian dari produksi drone semakin cerdas dengan bentuk yang semakin kecil. DJI Mavic, Quadcopter berukuran kecil ini bisa dikatakan kemampuan hampir sama seperti DJI Phantom 4 dan fitur-fitur tambahan lain, memang benar-benar produk yang fantastis.

Dji Mavic di pasaran beredar dua jenis, Combo dan Non Combo. Combo dengan paket flymore, dan non combo hanya dapat bawaan dalam kardus, artinya Combo lebih lengkap dengan sparepartnya.


Isi paket DJI Mavic Non Combo

Selain ukuran yang mungil, beberapa fitur yang tersemat di drone pabrikan DJI ini memang patut diajungi jempol. Ada pun fitur-fitur tersebut diantaranya, mampu terbang hingga kejauhan 7,5 km, dengan kecepatan maksimal bisa mencapai 65 km/jam. Drone pabrikan DJI ini juga bisa tracking dan mengikuti jalan penggunanya, kemampuan tracking ini tidak ada pada GoPro Karma. Fitur lainnya yang juga tidak tersemat di drone GoPro adalah kemampuan menghindari halangan di depan saat terbang, seperti yang ada pada DJI Phantom 4. Dan untuk ukuran mini drone, Mavic menang diketahananan baterai yang luar biasa karena berada di angka 27 menit, jika kemampuan ini dibandingkan dengan panthon 3 atau 4. Drone dengan ukuran mini ini punya 2 sensor anti tabrak, jadi tak perlu takut untuk terkena tembok kecuali faktor human error.


Ukuran kepalan tangan

Pertama kali sentuh remote controlnya terasa pegang Posel Nokia N-Gage, cukup kecil tapi kaya akan fitur. Ada fitur beginer hingga prof, drone ini juga bisa follow mode. Desainnya lebih kompak dan dilengkapi tempat untuk meletakkan smartphone di bagian bawah controller. Smartphone ini dapat juga digunakan untuk mengontrol drone. Anda cukup menyentuh layar smartphone untuk mengendalikan Mavic.

Sedikit mirip N-Gage

Kamera yang tersemat di drone ini 4K dan dilengkapi dengan gimbal yang mungil 3D Axis. Banyak kelebihan yang terdapat pada drone yang bisa dilipat ini dan saya sendiri belum banyak mengekspolarasinya. Silahkan bica browsing di Mbak Google, eh.. Mbah Google alias tete google, atau bisa sekalian beli.

Terbang perdana hanya 10 meter dari tanah

Nah, pertama coba terbang drone hasil rekamanya ini gambarnya sangat buruk.. kwkwkw... karena ternyata lupa kalibrasi gimbal dan remote. Beberapa video hasil rekamannya juga cukup baik, namun akan lebih baik jika terus berlatih agar mahir menggunakan drone ini.


Akhirnya mengudara dengan DJI Mavic.

Jadi recomended untuk miliki drone ini, sesuai isi kantong juga. Tak hanya Mavic, tapi bisa mencoba RC Copter lainnya. Oh iya, Xiro Xplorer V juga cukup standar untuk bersenang-senang. Dan konon menurut orang seharga motor Supra Lama.


Senin, 13 Maret 2017

VPS Mati Total Akibat Beban Server Reviewed by Bernard Agapa Date 3/13/2017 Rating: 3

VPS Mati Total Akibat Beban Server


Belajar dari pengalaman, kata-kata ini yang cukup terkenal tapi saya pikir hal ini benar adanya.


Beberapa tahun yang lalu saya dipercayakan seorang kawan untuk mengurusi bangun website portal berita. Tanpa ragu saya otak-atik website tersebut dan ternyata kosong dan harus dibangun dari awal. Bangun dari awal tak hanya tampilan website tersebut, tetapi juga soal sistemnya.

Lagi-lagi jika jika kita bahas terkait bangun sistem sebuah website dari 0 tentu bukan hal yang mudah bagi orang awam seperti saya di dunia infokom, termasuk coding dan lainnya yang berhubungan dengan server. Karena saya tak pernah belajar formal soal informatika, musti buka google bahkan beberapa petunjuk diantaranya tak ada yang berbahasa indonesia. Terpaksa google translate jadi tuan diatas ketidaktahuan saya.

Nah, kembali lagi... awal ketika itu saya diberi pasword dan user name. Awalnya hanya berpikir jika itu hanya sebuah user name pasword cpanel atau WHM, namun ternyata akun root VPS. (penjelasan mengenai apa itu VPS, WHM dan Cpanel akan saya ulas diartikel lain, atau bisa cari di google mungkin ada referensi dari para master.)

Pertama saya buka akun VPS, tampilannya mirip windows mobile generasi pertama. VPS atau kepanjangannya adalah Virtual Private Server. VPS itu seperti sebuah komputer yang bisa kita instal program sendiri. Semakin bagus spesifikasi sebuah komputer semakin lancar juga dalam pengoperasiannya, misalkan perbedaan ketikan Windows 7 2017 dengan Windows XP 2007. Windowd 7 pada tahun inidengan RAM 4 GB, GeForce GTX 750 , Prosesor 3.50 GHz dan Hardiks 250 GB adalah standar rata-rata sebuah PC pribadi.

Hampir semua petunjuk mengenai penggunaan VPS ini saya dapat hasil Mbah Google (bukan mbak...). Hingga akhirnya saya berhasil membangun system itu, WHM, Cpanel dan Wordpress. Awalnya cukup lancar tanpa error dan berlajan tanpa kendala. Namun sebulan berjalan, saya menemukan myqsl jalan sering berhenti dan ketahuan ternyata banyak pengunjung yang tampil di log server VPS. Entahlah saya beruhasa compress berbekal ilmu dari mbah Googe, namun beberapa kali sering mati semua system proses VPS.

VPS yang saya kelola ini cukup standar untuk ukuran portal berita, yang punya pengungjung 10.000 view perhari. Beban server pun sering overload, sebagai solusinya beban tersebut harus dibagi dengan cahce walaupun kapasitan Drive VPS hanya 25 GB dengan 512MB. Beberapa kali coba alihkan DNS ke Cloudflare tapi tetap saja gagal, karena sampah cloudflare pun jadi beban server.

Pada awal bulan Maret 2017 ini, web tersebut akhirnya benar-benar down dan menurut pandangan awam karena tidak mampu menampung pengungjung yang begitu banyak. Karena saya lihat di trafic log ada pengunjung ke ip address server yang berlebihan dan hal ini juga buat sangat susah login ke VPS. Kelebihan pengunjung karena dari log traffic terlihat, Desember 2016 sebesar 5,3 GB dan sedangkan Februari 2017 27GB. FYI, gan... website ini pernah diblokir kemeninfo pada Akhir tahun 2016 tanpa alasan yang jelas, namun dibuka lagi setelah salah satu Lembaga Bantuan Hukum di Jakarta memprotes bahwa pemblokiran karena ini tak sesuai mekanisme. Dan pemblokiran terhadap website ini dilakukan hanya beberapa provider seperti Telkom dan Telkomsel, selain itu lancar jaya.

Dan akhirnya website sudah down dan sedang dalam usaha perbaikan...
minta masukan dari para master..
-->